Pemerintah Bisa Ikut Serta dalam Penurunan Suku Bunga

Dalam mendorong penurunan suku bunga pinjaman perbankan yang masih sangat tinggi di Indonesia, pemerintah bisa mulai berperan aktif untuk mendanai permodalan bank-bank pelat merah yang selama ini lebih banyak dilakukan oleh investor. Paulus Yoga

Jakarta–Pemerintah dinilai perlu berperan aktif dalam menurunkan tingkat suku bunga kredit di Indonesia yang dinilai masih sangat tinggi. Peran serta pemerintah bisa dilakukan dengan turut mendanai permodalan bank-bank pelat merah.

“Sekarang kan bank-bank BUMN itu maksimal 40% sahamnya dimiliki publik, dan pemerintah tidak pernah tambah modal. Yang tambah modal itu investor,” tutur Pengamat Ekonomi Mirza Adityaswara, dalam Seminar Economic Outlook 2012 di Gedung BI, Jakarta, Rabu 16 November 2011.

Karena empat bank BUMN saat ini termasuk dalam 10 bank besar di Tanah Air, diharapkan bisa memberikan pengaruh dalam penentuan tingkat suku bunga di pasar.

Seperti diketahui, PT Bank Mandiri (persero) Tbk menduduki posisi pertama dari, PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk ada di posisi dua, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk di posisi tiga, dan PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk di posisi 10.

Dalam penambahan permodalan, bank-bank pelat merah tersebut melakukan beberapa aksi korporasi, seperti penawaran umum terbatas (rights issue) saham seperti yang dilakukan Bank Mandiri dan BNI pada akhir tahun lalu, yang dananya berasal dari para investor.

Sementara pemerintah sendiri berupaya meningkatkan kapasitas bisnis bank-bank BUMN dengan mulai mempertimbangkan pengurangan dividen, yang diharapkan bisa menambah permodalan untuk ekspansi kredit.

Marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang tinggi di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk masuk dan membiayai sektor perbankan di Tanah Air, sehingga tidak heran bila investor ingin NIM tetap tinggi, karena menyangkut dividen yang akan diperoleh.

“Kalau bank mau tumbuh 25% per tahun itu perlu tambah modal tiap 2-3 tahun. Kemudian market akan tanya, berapa profit yang bisa diraih sehingga dividen bisa meningkat. Jadi, ada konsekuensi yang harus diterima kalau laba bank-bank turun karena NIM turun,” tandas Mirza. (*)

  • No Comment for this post
Name:
Email:
Comment:
*Max. 300 Characters, Left Character(s)
Security Code
     
   
  • Bagikan

Other News