The Family & Financial Day (FnF) : "Pesta Nikah, siapa yang bayar?"

Dear Member MnL yang berbahagia,



Selamat pagi,


Saya menjumpai Anda kembali di Rabu ini 20 September 2012.


Sesuai dengan penyampaian saya, bahwa The Fine Day sudah berganti nama menjadi
The Family n Financial Day (disingkat FnF).


Hari ini saya ingin mengurai tentang:


"PESTA NIKAH, siapa yang bayar?"



Siapa sich yang mau nikah?


1 pasang kekasih atau 2 "kelompok besar" keluarga?


Ada yang berkata: "Yang nikah dan bersatu itu adalah 2 pribadi menjadi 1 entitas
baru!"


Di sana ngomong: "Yang bersatu itu adalah 2 keluarga besar, melalui pernikahan 2
pribadi!"


Ke 2 nya benar, karena mereka memakai tolak ukur dan persepsi masing2.


Bagaimana praktik di bangsa Timur?


Lalu bagaimana juga kebiasaan di dunia Barat?


Apakah ada tertulis dalam komik "Ko Ping Ho", siapa yang menikah dan siapa yang
bersatu, serta yang bayar?


Apakah ada dalam Undang Undang Perkawinan RI, mengatur siapa yang bayar biaya
nikah?



----


Apakah kebiasaan atau tradisi tidak bisa dirubah?


Apakah adat atau budaya harus dipatuhi dan diikuti walau "berdarah-darah"?


Siapa yang menentukan ukuran, cara dan budaya atas sebuah pesta nikah?


Orang tua, keluarga besar atau cukup ke 2 calon mempelai saja?


-----


Lalu siapa yang membayar segala biaya pesta nikah yg diselenggarakan?

Dalam buku saya, "MONEY, LOVE n MARRIAGE" ditulis:

Yang menentukan jenis pesta, tata cara dan budaya yang dipakai adalah hak dari
kedua mempelai.

Orang tua dan keluarga besar boleh memberikan saran, nasihat dan bantuan, namun
tdk harus mencampuri jauh ke dalam (kecuali diizinkan sang mempelai).

Karena yang "mengatur dan menentukan" jenis pesta dan tata caranya adalah kedua
mempelai, maka yang pantas membayar segala biaya yang timbul adalah kedua
mempelai juga.


-----


Apakah ada pembagian porsi?

Misalnya pria 70% dan wanita 30%?

Ya dikompromikanlah berdua, sesuai dengan kemampuan keuangan dari masing-masing
pihak.


-----


Poin-nya adalah:
1. Pesta diadakan sesuai dengan kemampuan keuangan yang ada.
2. Pesta dibiayai oleh ke 2 belah pihak, dengan persentase sesuai kesepakatan.
3. Pesta tidak dibiayai dengan hutang.
4. Pesta bukanlah "ajang dagang" dan mencari "keuntungan" (surplus).
5. Pesta bukanlah ajang "PAMER" kemampuan dan adu HEBAT. Melainkan hanyalah
ucapan syukur kepada TUHAN dan deklarasi kpd publik.
6. Orang tua dan keluarga besar silahkan duduk manis dan tidak campur tangan,
kecuali diminta mempelai.
Orang tua boleh membantu dana (sesuai kemampuan dan keikhlasan), tapi tetap
tidak boleh "Nasi Campur Kenanga".


-----


Bagaimana seandainya mempelai tdk punya dana untuk pesta nikah?

Nikah saja dahulu, pesta tdk harus ada!

Banyak pasangan yang menikah terlebih dahulu, lalu pestanya (baca syukuran)
diadakan saat dana sudah leluasa tersedia.

Upacara syukuran bisa dilakukan di rumah sendiri dengan nasi kotak dan
mengundang keluarga dekat saja, serta ada sedikit doa bersama.

Gitu aja kok repot?!

-----

Pesta nikah?

Boleh saja!

Tapi hitung dana di dompet!

Dan jangan nyusahin badan dan pikiran, dan "start" keluarga dengan posisi MINUS
(ALIAS NGUTANG)!

Bertindaklah BIJAK dan CERDAS, ini adalah harimu dan harinya!

Anda dan dia yang ingin ber-ikrar dalam pernikahan suci dan agung, dan yang lain
hanyalah "penonton" dan "pendukung"!



Salam,
Freddy Pieloor
Konselor Keuangan Keluarga
Penulis "MONEY, LOVE & MARRIAGE"







Inspired by www.MONEYnLOVE.com®
Managing Money with Love™

Info pelatihan & konsultasi:
Telp. 021-9199.6699
Email. Barbara@MONEYnLOVE.com

Twitter @FreddyPieloor
FB: Freddy Pieloor
Milis: MONEYnLOVE-subscribe@yahoogroups.com
  • No Comment for this post
  • Bagikan
Name:
Email:
Comment:
*Max. 300 Characters, Left Character(s)
Security Code
     
   

Articles and Tips